Kamis, 06 Juli 2017

Ketangguhan Pengusaha Properti Terbesar di Inggris, Jon Hunt


Beragam rintangan dan tantangan tampaknya sudah menjadi hal biasa bagi salah satu seorang pengusaha properti terbesar asal Inggris yang satu ini.

Besar di keluarga militer yang cukup keras disiplin dan selalu ditinggal oleh kedua orangnya di masa-masa yang seharusnya berbahagia dengan keluarga, semakin menajamkan mental serta tekadnya untuk hidup lebih mandiri.

Jonathan Hunt atau yang sering disapa ramah Jon Hunt ini adalah seorang pengusaha yang bergerak dalam bidang properti yang cukup besar di Inggris, yakni perusahaan Foxtons yang secara khusus mengembangkan real estate  di seluruh wilayah Inggris.

Selain itu, kini dirinya telah mengembangkan bisnis usaha lainnya, yang bergerak dalam bidang foods & beverages.

Perjalanan kariernya tidak semudah yang kita bayangkan. Pada awalnya, dirinya bekerja di sebuah perusahaan hukum yang bergerak dalam bidang legal khususnya di Kota London.

Tidak lama kemudian, dirinya pun memulai membuka usaha semacam bengkel sepeda motor di salah satu sudut kota kecil wilayah tersebut. Bahkan, dirinya pun pernah bergabung menjadi anggota militer dan menjadi seorang supir setelah keluar dari keanggotaan militer.

Selama menjadi supir, dirinya pun melakukan perjalanan yang cukup jauh di setiap harinya yang dapat memakan hingga 20 jam sehari ketika mulai berhijrah ke Australia di masa umur 20-an.

Lalu, tidak lama kemudian Jon Hunt pun mencoba untuk menjadi salah satu karyawan agensi properti kecil di Australia dan melamar sebagai sales agency. Kariernya yang cukup cerah dan cermat dalam menjual properti membuat dirinya semakin percaya diri untuk menjadi pengusaha properti.

Selengkapnya :  http://blog.citragran.com/content-1013-ketangguhan-pengusaha-properti-terbesar-di-inggris-jon-hunt.html

Berani, Kunci Utama Pengusaha Properti



Di saat para remaja sibuk untuk menjalin hubungan dengan orang lain, berpesta, bermain, dan berhura-hura untuk menikmati masa remajanya, pengusaha properti muda asal Australia ini tampaknya rela mengobarkan masa remaja tersebut untuk menjadi orang sukses seperti sekarang.

Ya, remaja pada masa tersebut adalah Nathan Birch.

Nathan Birch adalah seorang pengusaha properti muda, yang memulai serta menekuni bidang properti   semenjak usia 13 tahun.

Dirinya sangat tertarik dalam bidang properti, ketika kakak besarnya membeli sebuah rumah. Nathan pada masa itu melihat sebuah peluang yang menarik jika menekuni jual-beli serta sewa rumah.

Menekuni serta mempelajari tentang usaha properti selama 5 tahun, menginjak usia 18 tahun Nathan memberanikan diri untuk membeli properti pertamanya dengan seharga 248.000 Dollar AS, di wilayah barat Kota Sydney.

Karena keberanian serta ketekunannya, hingga di usia 24 tahun, dirinya telah memiliki 10 buah properti dan telah menghasilkan sekitar 30.000 Dollar AS per tahunnya.

Selengkapnya :  http://blog.citragran.com/content-1012-berani-kunci-utama-pengusaha-properti.html

Perjalanan Miliarder Bisnis Properti




Tuhan` atau `God` dalam bahasa Inggris, merupakan kata yang cukup sakral karena mengacu pada sebutan Sang Pencipta alam semesta. Tapi tahukah Anda, God ternyata merupakan salah satu miliarder bisnis properti terkaya di dunia dengan jumlah kekayaan mencapai US$ 3 miliar atau setara Rp 36,57 triliun.

Bagi penduduk dunia yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utamanya, tentu nama God pada manusia terdengar sangat janggal. Apalagi mengetahui bahwa God ternyata telah berkeluarga.

God telah menikah dan hidup bahagia bersama istri serta ketiga anaknya. Dia merupakan pria kelahiran Azerbaijan, negara yang mayoritas penduduknya adalah muslim syiah.

Setelah dewasa, God menjadi pengusaha di sektor properti sebagai pengembang real estate. Saat ini God bersama keluarganya menetap di Rusia dan mendominasi bisnis properti di kawasan tersebut.

Siapakah sebenarnya miliarder bernama God ini? Berikut seluk beluk salah satu orang terkaya dunia tersebut, seperti dikutip dari Forbes, The Richest, Rumafia dan sejumlah sumber lainnya;

Sekilas tentang miliarder bisnis properti bernama God

Pria bernama lengkap God Nisanov Semenovich ini lahir di kota kecil di Azerbaijan pada 24 April 1972. Hingga saat ini, tak ada yang tahu pasti mengapa orangtuanya memberi nama God pada pria berusia 41 tahun ini.

Ayahnya merupakan direktur pengalengan makanan dimana sebagian besar keluarganya bekerja. God lalu mereguk ilmu di College of Finance and Credit. Setelah itu, dia menyandang gelar diploma dari Baku Institute of Law.

Setelah lulus, dia dipercaya mengurus bisnis minyak keluarga. Dia juga bertanggung jawab mengurus distribusi produk minyak Azerbaijan dan mengawasi bagian penjualan.

Selengkapnya :  http://blog.citragran.com/content-1011-perjalanan-miliarder-bisnis-properti.html

lee-shau-kee-raja-properti-dari-hongkong Lee Shau Kee, Raja Properti Dari Hongkong



Salah satu tuan tanah terkaya dari Hong Kong atau yang dikenal juag sebagai raja properti dari Hong Kong, Lee Shau Kee memimpin Henderson Land Development, seorang investor di Internasional Financial Center  yang menjadi ikon Hong Kong dan beberapa proyek properti utama termasuk The Henderson Metropolitan di sepanjang Nanjing West Road yang berdekatan dengan the Bund atau pesisir di Shanghai.

Ia melihat peruntungannya meroket di tahun sebelumnya seraya sector real estate merosot mengikuti kenaikan pajak.

Perusahaan-perusahaan Hong Kong di perjualbelikan di depan publik yang dikendalikan oleh Lee termasuk Hotel Miramar dan Hong Kong & China Gas. Rekan Lee sejak memulai bisnis adalah perintis Sun Hung Kai properti yaitu Kwok Tak-Seng, yang anak-anaknya juga termasuk di dalam daftar miliuner dunia.

Selengkapnya : http://blog.citragran.com/content-1010-lee-shau-kee-raja-properti-dari-hongkong.html

Senin, 03 Juli 2017

Industri Perhotelan Punya Raja Baru, Henry J. Gunawan




Henry J. Gunawan adalah pencetus ide The Rich Prada, hotel bintang 5 bertaraf internasional terbesar di Bali. Setelah kesuksesan di industri perhotelan dengan mengembangkan hotel mewah itu, Henry berniat untuk membangun dan mengelola hotel-hotel lain yang tak kalah mewah.

Bisnis properti perhotelan adalah bisnis yang penuh persaingan, sehingga setiap pengusaha perhotelan perlu kerap memikirkan ide-ide baru yang inovatif.

Lelaki yang dijuluki ‘Raja Ruko dari Surabaya’ ini menganggap bahwa persaingan bisnis adalah suatu faktor pendorong yang dapat membuat usahanya jadi lebih maju.

Menurutnya, dalam membangun hotel, yang paling penting adalah kenyamanan para tamu yang menginap.

Sebisa mungkin ia memberikan layanan dan kualitas setara bintang 5 pada hotel berbintang 3, antara lain dengan televisi canggih, air kran yang dapat diminum, sarana convention hall, kolam renang, dan perlengkapan mewah lain.

Selain itu ia juga memanjakan pelanggannya dengan memberi keleluasaan menggunakan fasilitas secara gratis, misalnya fasilitas spa. Area jangkauan targetnya adalah Surabaya, Malang, dan Jakarta.

Kesuksesan The Rich Prada telah menjadi pelajaran berharga baginya untuk mengembangkan dan melebarkan sayap bisnisnya. Ia bertekad untuk membangun Istana Permata Hotel.

Bagi Henry, industri perhotelan saat ini sedang berkembang pesat. Industri perhotelan lebih ia pilih ketimbang industri perumahan, karena usaha hotel bisa dijalankan dengan lebih santai.

Selengkapnya :  http://blog.citragran.com/content-989-industri-perhotelan-punya-raja-baru-henry-j-gunawan.html

Bisnis Pengelolaan Gedung Sukses Digeluti Denny Muliaman




Bagi Denny Muliaman, direktur sekaligus pemilik Grand Pasundan Convention Hotel Bandung, pentingnya kualitas pelayanan kepada pelanggan sudah bukan sesuatu yang bisa ditawar-tawar lagi untuk bisnis pengelolaan gedung seperti ini.

Pelayanan optimal dari seluruh karyawan-mulai dari tingkat bawah sampai atas-untuk memuaskan pelanggan, dia akui menjadi hal yang mutlak harus dijalankan, terutama pada perusahaan yang bergerak di bidang jasa.

Ampuhnya pelayanan yang berkualitas dalam pengembangan usaha jasa sudah dia buktikan pada bisnis pengelolaan gedung yang digelutinya sejak 1991. Sampai-sampai ayah tiga anak ini berkesimpulan bahwa kunci keberhasilan usahanya terletak pada servis yang diberikan kepada konsumen.

“Keberhasilan dalam mengembangkan bisnis jasa terletak pada bagaimana kita bisa memuaskan konsumen. Sebab kalau penyewa ruang pertemuan puas dengan pelayanan kita, mereka akan menyebarkannya kepada orang lain dari mulut ke mulut,”

Dalam praktiknya, pelayanan yang bisa memuaskan konsumen itu tidak hanya terletak pada keramahan karyawan mulai dari tukang parkir, front office sampai direktur.

Dalam bidang properti penyewaan gedung pertemuan, kata dia, kepuasan pengguna jasa juga akan dipengaruhi oleh bagaimana kondisi function room yang digunakan dan menu makanan yang disajikan.

“Kami selalu menekankan pentingnya seluruh aspek pelayanan tersebut kepada setiap karyawan melalui pengarahan secara berkala. Tujuannya supaya karyawan benar-benar memahami pentingnya pelayanan,” tutur sarjana lulusan Universitas Atmadjaya Jakarta ini.

Menurut Denny, aspek pelayanan ini lebih penting dari kemegahan sebuah gedung pertemuan. Sebab bila hanya membandingkan kondisi fisik gedung, sudah pasti gedung yang baru dibangun akan memiliki daya tarik yang lebih besar karena rancangannya akan mengikuti tren yang sedang berkembang.

Selain kualitas pelayanan, penyandang MBA dari Golden Gate San Fransisco ini berpendapat, lokasi gedung pertemuan yang mudah terjangkau oleh konsumen juga menjadi penentu ramai tidaknya penggunaan gedung tersebut.

“Meskipun Grand Pasundan tidak berada di pusat kota, tapi lokasinya cukup mudah dijangkau karena dekat dengan jalan tol serta kondisi jalannya tidak terlalu macet.”

Denny yang lahir di Jakarta September 1970 mulai masuk ke bisnis pengelolaan gedung pertemuan dalam usia relatif muda. Awalnya adalah ketika pada 1991, dia bekerja sama dengan Balai Pustaka untuk mengelola gedung pertemuan milik perusahaan yang bergerak di bidang percetakan tersebut.

Selengkapnya :  http://blog.citragran.com/content-988-bisnis-pengelolaan-gedung-sukses-digeluti-denny-muliaman.html

Developer Muda Ini Lulusan Ciputra Entrepreneurship Program




Kini banyak bermunculan developer muda dan entrepreneur-entrepreneur muda yang menerjuni dunia usaha dengan berbekal kemampuan dan pengetahuan entrepreneurship yang mereka dapat dari pelatihan entrepreneurship  yang diberikan oleh Dr.Ir. Ciputra.

Salah satu dari sejumlah peserta pelatihan tersebut ialah Suswanto, seorang pemuda asal Yogyakarta yang mendirikan usaha properti perumahan , PT Total Prima Mandiri.

Perusahaan ini menangani proyek perumahan yang membidik konsumen kelas menengah atas. Salah satu perumahan yang menjadi karya sang developer muda yaitu perumahan Puri Citra Indah di Kota Sleman, Yogyakarta. Proyek pertamanya ini berskala kecil, dengan jumlah 13 unit bertipe 85 di lahan seluas 2.525 meter persegi.

Suswanto bukan seorang anak developer terkemuka di Tanah Air atau terlahir dalam keluarga yang berkecukupan. Ia mengakui mengalami masa kanak-kanak yang serba kekurangan. Kedua orangtuanya tidak memiliki pekerjaan tetap yang bisa diandalkan sepanjang waktu.

Meski bergulat dengan keterbatasan finansial, toh orangtuanya berhasil membiayai sang anak menempuh dan menyelesaikan pendidikan di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Di Juli 2009, Suswanto berhasil menggenggam gelar sarjana dari jurusan Teknik Mesin UGM.

Beberapa waktu sebelum waktu kelulusan tiba, Suswanto merasa gelisah dengan apa yang harus ia perbuat setelah mendapatkan gelar akademik tersebut. Ia dan orangtuanya tahu persis bagaimana kondisi yang harus dihadapi oleh lulusan sarjana di pasar tenaga kerja Indonesia sekarang ini.

Saat tengah bimbang harus melakukan apa untuk masa depannya, Suswanto mendengar diadakannya Ciputra Entrepreneurship Program (CEP) di tahun 2009 yang melibatkan UGM dan Ciputra Foundation.

Hatinya tergerak untuk mengikuti namun terhalang masalah dana untuk pembelian tiket. Suswanto merasa keberatan untuk membeli tiket seharga Rp 100.000 yang baginya terasa sangat besar.

Untungnya, seorang sahabat berbaik hati meminjamkannya uang yang diperlukan. Di tes saringan untuk menjadi peserta program, sementara temannya tidak lolos, Suswanto berhasil masuk.

Setelah itu, bukan berarti ia sepenuhnya lega karena masih harus membayar uang sebesar Rp 1 juta untuk modal saat lulus program ini. Pertolongan datang kembali. Kali ini seorang dosen meminjaminya uang.

Akhirnya Suswanto mampu membuktikan kualitas dirinya dengan menjadi salah satu lulusan angkatan pertama CEP. Sebanyak 27 orang lainnya juga turut menjadi bagian angkatan pertama ini.

Selengkapnya :  http://blog.citragran.com/content-987-developer-muda-ini-lulusan-ciputra-entrepreneurship-program.html