Senin, 03 Juli 2017

Denny Putra Husodo Memilih Untuk Besarkan Bisnis Keluarga




Kata orang bijak, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Itulah Denny Putra Husodo, komisaris PT Puri Wahid Pratama (PWP). Dia memilih menggeluti bisnis properti, dunia yang digeluti sang ayah, Sugiharto, sejak 26 tahun lalu.

PT PWP adalah pengembang properti   yang berbasis di Salatiga, Jawa Tengah. Perusahaan telah menggarap beberapa proyek residensial dan hotel di kota-kota wilayah Jawa Tengah. Salah satu proyeknya adalah Hotel Grand Wahid, Salatiga.

Saat ini, perusahaan melakukan ekspansi ke luar Jawa Tengah dengan membangun superblok Cibinong City Centre seluas 22 hektare di kawasan Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Selain akan dibangun proyek residensial, di atas lahan tersebut akan dibangun mal dan hotel.

Bagi Denny Putra Husodo, properti bukan dunia baru. Sejak kecil, dia sudah mengenal apa itu desain, konstruksi, dan rancangan arsitektur. Itu karena secara berkala sang ayah mengajaknya ke lokasi proyek.

“Secara tidak sadar, ada yang masuk dalam hati dan pikiran saya. Akhirnya, saya mengikuti jejak ayah,” ujarnya seperti dilansir Investor Daily.

Guna menguatkan ketertarikannya ke dunia properti, Denny pun mendalami ilmu arsitektur. Pada 2005, dia meninggalkan kota kelahirannya, Salatiga, lalu terbang ke Melbourne, Australia. Di kota tersebut, dia belajar arsitektur di University of Melbourne.

Berbekal ilmu yang didapat dari bangku kuliah serta niat kuat membesarkan bisnis orangtua, Denny Putra Husodo terjun ke dunia properti. ”Di properti, saya bisa mengekspresikan sentuhan seni, khususnya desain bangunan yang saya pelajari,“ katanya.

Persoalannya, kepada pengembang mana dia harus abdikan ilmunya? Pilihan ternyata jatuh ke PT PWP, perusahaan yang dirintis sang ayah. “Saya meyakinkan orangtua melalui hasil kerja. Saya berniat membesarkan bisnis keluarga. Saya yakinkan orangtua bahwa saya serius,” tegas Denny.

Denny Putra Husodo berharap, sayap bisnis PT PWP semakin berkembang sejak kehadirannya. “Saya sampaikan kepada ayah bahwa saya memiliki niat keras untuk memajukan bisnis keluarga,” ujarnya.

Bergabung ke PT PWP memudahkan langkah Denny terjun ke bisnis properti. “Ini kan sudah ada, tinggal meneruskan. Lebih mudah meneruskan yang sudah ada, daripada memulai yang baru,” kata Denny.

Di tempat kerja, Denny mengaku tidak memosisikan diri sebagai anak pemilik perusahaan. Semua pihak berusaha menempatkan diri sesuai sistem dan mekanisme yang berlaku.

Selengkapnya :  http://blog.citragran.com/content-986-denny-putra-husodo-memilih-untuk-besarkan-bisnis-keluarga.html

Pengusaha Indekos Mewah Ini Sukses Berbisnis Tanpa Modal




Mengelola rumah indekos mewah ternyata bisa jadi peluang bisnis yang menjanjikan. Bila dikelola dengan benar, pengusaha indekos mendapat untung jutaan pun mengalir ke kantong.

Hebatnya lagi, membangun rumah indekos, ternyata bisa dilakukan tanpa modal tabungan berlimpah.

Mari belajar pada Enost (42) dan Nancy (39). Pasangan suami istri ini mengelola tiga rumah indekos eksklusif di Surabaya. Dua diantaranya, yang ada di kawasan Sidosermo, adalah milik mereka sendiri.

Sementara satunya, yang terletak di kawasan Bendul Merisi, milik orangtua yang kepengelolaannya dipercayakan kepada mereka.

Semula, baik Enost dan Nancy sama sekali tak berpikir akan menjadi pengusaha indekos. Ide bisnis properti ini, muncul begitu saja dalam benak Nancy.

Iseng-iseng mencari tanah murah untuk dibangun rumah yang akan ditempati setelah menikah, jadi awal petualangan keduanya mengarungi bisnis ini.

“Setelah menikah, kami tentu ingin punya rumah sendiri . Iseng-iseng cari tanah, lalu kami coba tawar-tawar harganya. Eh, ternyata tawaran kami ada yang nyantol. Setelah itu kami malah jadi bingung, mau bayar pakai apa, karena tabungan juga tidak banyak,” ujar Nancy seperti dilansir Tribunnews.

Dari kebingungan itu, Nancy malah mendapatkan ide. Ia memutuskan untuk membangun indekos, yang mana pendapatannya nanti, ia gunakan untuk membayar rumah indekos yang ia bangun.

Bagaimana caranya? Pertama, Nancy meminjam sertifikat rumah milik orangtuanya. Sertifikat ini diagunkan ke bank, sehingga Nancy mendapat pinjaman uang tunai.

Dari uang tunai ini, Nancy membayar tanah yang ia beli. Lalu, sertifikat tanah ini, ia agunkan lagi untuk mendapat uang, yang akhirnya ia gunakan untuk membangun indekos tersebut.

Selengkapnya : http://blog.citragran.com/content-985-pengusaha-indekos-mewah-ini-sukses-berbisnis-tanpa-modal.html

Duwi Syahlevi Rintis Bisnis Properti untuk Semua Kalangan




Pasang surut usaha seirama dengan situasi ekonomi, politik, dan keamanan dialami oleh hampir semua perusahaan properti. Kondisi tersebut tak membuat Duwi Syahlevi gentar dalam merintis bisnis properti
Untuk mewujudkan impiannya, Duwi mendirikan PT Duwi Mandiri System, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa arsitektur dan pembangunan perumahan.

Duwi memulai usahanya sejak Oktober 2010 di Bekasi, Jawa Barat. Ditunjang latar belakang pendidikan teknik sipil, ia ingin membangun perumahan yang murah dan layak bagi semua kalangan.

Banyak kendala dalam menjalankan usahanya, seperti mencari lahan serta mencari perizinan yang merupakan kendala paling sulit. Namun kendala tersebut dihadapinya dengan profesional.

“Dengan langkah tersebut perusahaan dapat mempertahankan posisinya sebagai mitra yang dapat diandalkan dalam bidang usahanya dan memberikan harapan dapat meraih prospek masa depan yang lebih cerah,” ujar Duwi saat dihubungi Ciputraentrepreneurship.com.

Perusahaan yang dijalankannya terus berkibar. Kini, Duwi tak hanya fokus di Bekasi namun mencoba untuk melebarkan sayap di Jabodetabek. “Maka dari itu kami akan memperluas wilayah secara perlahan-lahan, karena dengan itu kami bisa bertahan dalam mengelola usaha,” katanya.

Selengkapnya : http://blog.citragran.com/content-984-duwi-syahlevi-rintis-bisnis-properti-untuk-semua-kalangan.html

Evan Kwee, Taipan Real Estat Sukses dari Negeri Singa




Evan Kwee merupakan orang nomor lima terkaya di Singapura versi majalah Forbes. Harta kekayaannya diperkirakan mencapai USD5,2 miliar atau sekitar Rp61 triliun, yang berasal dari bisnis keluarga yang bernama Pontiac Land.

Dilansir dari Forbes, ayahnya, Henry Kwee, mengawali kariernya dengan bisnis tekstil dan real estat di Indonesia. Sekitar tahun 1958 dia dan keluarganya pindah ke Singapura.

Di Singapura, dia membangun properti kondominium kelas atas, beserta dua gedung perkantoran dan satu hotel bintang lima, yaitu Ritz Carlton.

Berbekal jaringan bisnis yang dibuat oleh ayahnya, Evan, saat ini dia dipercaya ayahnya untuk mengelola sebuah hotel super mewah yang bernama Capella Hotel. Sejak kecil, Evan Kwee memang bercita-cita ingin menjadi pebisnis seperti ayahnya.

Oleh karena itu, dia menempuh pendidikan di Babson Collage. Sekolah ini merupakan sekolah khusus untuk mencetak para pengusaha muda.

“Saya selalu ingin tahu dan memajukan bisnis keluarga. Saya juga tertarik dengan konstruksi dan desain. Bisnis perhotelan ini seperti sudah mendarah daging dalam tubuh saya,” ucapnya seperti dilansir dari Okezone.

Selengkapnya :  http://blog.citragran.com/content-983-evan-kwee-taipan-real-estat-sukses-dari-negeri-singa.html

John Van Lieshout, Taipan Properti dari Negeri Kangguru




Ekspansi adalah harga mati bagi pebisnis ulung. Kendati dunia properti Australia tengah terancam bubble, John Van Lieshout tak gentar berekspansi.

Malahan, lahan bisnis properti kini semakin meluas. Berawal dari mengelola perkantoran dan pusat perbelanjaan, Lieshout kini tengah asyik bermain di bisnis resor dan hunian lewat bendera usaha Unison Projects.

Masih memegang prinsip anti-berutang, Lieshout tak kehabisan akal berekspansi. Pebisnis properti berusia 67 tahun ini memutar pendapatan tetap hasil sewa ruang perkantoran dan pusat perbelanjaan.

Maklum, di awal terjun ke bisnis properti, gedung komersil dan ritel menjadi fokus bisnis Unison.

Saat ini, ada sejumlah portfolio properti yang menjadi tulang punggung Unison. Misalnya, gedung perkantoran Village Greater Union Hoyts Centre dan 20Hunter Street. Lieshout membeli dua gedung ini senilai US$ 200 juta di akhir tahun 2009 silam.

Sukses di bisnis gedung komersil, Lieshout juga membeli pusat perbelanjaan milik GPT Group di Brisbane senilai US$ 100 juta.
John Van Lieshout melakukan pembelian ini dengan menggunakan dana hasil penjualan jaringan Super A-Mart. Lieshout mendapatkan dana A$ 500 juta dari penjualan jaringan toko furnitur tersebut.

Nah, Lieshout kembali menggunakan resep yang sama untuk menuai keuntungan di lahan bisnis baru. Setelah pendapatan berkelanjutan (recurring income) dari properti komersil dan ritel membesar, Lieshout masuk ke properti resor dan hunian.

Selengkapnya :  http://blog.citragran.com/content-982-john-van-lieshout-taipan-properti-dari-negeri-kangguru.html

Miliader Indonesia Yang Sukses Berbisnis Real Estate




Dalam daftar orang terkaya Indonesia yang dirilis Forbes pada penghujung tahun ini, para miliarder Indonesia ini mendapatkan kekayaan dari berbagai usahanya.

Empat di antaranya merupakan pengusaha real estate kawakan yang sudah terkenal. Kekayaan yang dihasilkan dari bisnis properti ini pun terbilang fantastis.

Seperti dilansir Forbes, Senin (21/12/2015), berikut ini empat miliarder Indonesia yang merupakan pengusaha real estate.

1. Ciputra
Pendiri Ciputra Group ini menempati peringkat 16 dalam daftar orang terkaya Indonesia dengan kekayaan USD1,52 miliar. Dibandingkan dengan 2014, peringkatnya naik dari awalnya di 21.

2. Eka Tjandranegara
Pemilik Mulia Land ini tercatat sebagai orang terkaya nomor 18 dengan kekayaan USD1,4 miliar pada tahun ini. Peringkat ini turun dibandingkan 2014 yang ada di posisi 17.

Selengkapnya :  http://blog.citragran.com/content-981-miliader-indonesia-yang-sukses-berbisnis-real-estate.html

Artis Tukang Bubur Naik Haji Merambah Bisnis Properti




Citra Kirana merupakan artis yang selalu muncul di layar televisi lewat sinetron Tukang Bubur Naik Haji, meskipun karirnya sedang mengalami masa keemasan Citra Kirana tidak serta merta lupa untuk mempersiapkan diri untuk masa depannya kelak.

Sadar karir di industri hiburan tidak akan berjaya selamanya, wanita yang akrab disapa Ciki ini pun sudah memiliki rencana untuk berbisnis. Bisnis properti dikatakan Ciki sepertinya cukup menjanjikan guna investasi di hari tua.

“Iyalah udah harus dipikirin (bisnis). Karena emang aku udah mikirin banget. Aku paling ambil properti aja sih kalo mau bisnis. Karena aku berpikir setiap orang butuh tempat tinggal. Mau kita bikin dimana pun, di tempat terpencil mana pun orang butuh. Terbukti aku pun nggak (tinggal) di tengah-tengah kota, di perkampungan dekat-dekat pabrik. 

Selengkapnya :  http://blog.citragran.com/content-980-artis-tukang-bubur-naik-haji-merambah-bisnis-properti.html